Recent Blog post
Archive for 2014
Perlahan tapi pasti, tangan kanan yang mengayun pelan, dan menjadi kuat ketika ujung pesawat siap melaju. Ini penerbangan tunggal, dngan tibuan harapan di kirim melalui sebuah kertas. Benda putih itu melayang secara abstrak di langit luas, tak tahu kapan ia kan berhenti. Mengira-ngira kapan ia kan jatuh, dan tak bangkit lagi. Tidak, cita-cita tak boleh berhenti diinginkan begitu saja. Ini permulaan. Selagi angin berhembus, tak ada kata berhenti tergambar di pikiran. Gadis itu tahu pasti, meyakinkan diri sendiri keinginan tang terlipat rapi yang sekarang sudah terbang.
"Melayanglah teman kecil, sampaikan salam dan rinduku pada alam dan junjungan langit."
Story by : MigiRuki / Himawari Fa-chan
Pesawat Kertas
Lautan refleksi di angkasa, awan-awan putih
suci melayang perlahan, dibawah itu berdiri tegak seorang gadis mencari
kedamaian. Di atas pemandangan yang indah nan luar biasa, dan gadis yang elok
rupawan itu, seolah terhubung. Senyum simpul kecil terlukis di wajah, perasaan
yang terkirimkan kepada yang tertuju tanpa alamat, tanpa tujuan, tanpa batas,
tak terhentikan. Mentari pagi menyambut sang gadis, dan bumi tempat berpijak.
Dua kaki yang menginjak tanah tempat kembali tak tergoyahkan, bagai hatinya. Dua
mata biru bak batu safir memandang ke garis lurus horizontal angkasa, tertuju
pada putih dan birunya luas langit. Rambut hitam panjang itu menari-nari
tertiup angin, dan rok kembang berenda-renda pun ikut mengikuti arus angin.
“Mungkin hanya ini yang bisa ku sampaikan.”
Gadis itu menatap langit, mata birunya menatap awan putih yang melayang.
Pandangan sedih terpancar lewat matanya, senyum kecil terlukis di bibir
merahnya. Seikhlas mungkin ia keluarkan lewat hatinya. “Kau tau....” ia
melanjutkan kembali, jari telunjuk
mengarah ke langit, secara abstrak ia tunjuk ke tempat terjauh di atas refleksi
lautan di angkasa. “Disana ada keajaiban”.
Ia tertawa kecil,
“Kau pasti bingung dan bertanya-tanya”. Sambil mengambil nafas panjang,lalu ia
hembus dari hidung. Ia membalikkan badannya. “Keajaiban itu adalah tujuh cahaya
yang datang setelah hujan reda.” Senyumnya melebar, bahkan semakin lembut.
Setetes air mata jatuh. “Jika kita membelakangi matahari, maka tujuh cahaya itu
akan terlihat jelas. Walau samar terlihat.” Air mata kembali berjatuhan.
Tepat setelah
kata-kata itu, ‘Keajaiban’ yang ia maksud muncul tepat di belakangnya,walau
tempatnya jauh untuk hadir, tapi terlihat dekat. Angin sejuk berhembus, suasana
hangat setelah hujan membuat hati dan perasaan damai. Genangan air diberbagai
tempat menjadi cermin pandangan. Gaun selutut yang ia kenakan menari-nari
tertiup angin, walau sudah mencoba melawan tapi tetap tak dapat terelakkan.
“Lihat.” Ia melanjutkan, “Berapa warna yang kau lihat disana?” jarinya menunjuk
cahaya warna-warni setengah lingkaran yang jauh, “Tujuh, apa aku salah?”
nadanya sedikit berubah, kali ini ia memang bertanya. Ia menyeka air matanya
sejenak, tak ingin diganggu sementara dengan perasaan rahasia dihatinya.
Mata biru bak batu safir itu kembali melihat
kejauhan semampu mata memandang,badannya ia balikkan sedikit,kearah cahaya yang
berhadapan dengan matahari,dan tepat didepannya,'keajaiban' yang dimaksud
seolah berdiri tegap,menyambut senyumnya. "Tujuh warna itu disebut
Pelangi." Matanya terbuka lebar,benar-benar puas akan hal yang ia lihat.
"bukankah mereka hebat? Warna-warna lembut itu tak bercampur satu sama
lain." Jari-jarinya bergerak naik turun,menunjuk langit yang bercahaya
warna-warni dikejauhan. "dari atas ke bawah,bukankah mereka menarik? Amarah,bahagia,ketenangan,kesedihan,kepercayaan,kehampaan...
Semua ada pada satu cahaya putih." ucapnya lembut dengan nada santai.
"Kita tak
tahu,yang manakah ujungnya,ada apa di ujungnya,seluas apa Pelangi itu. Tapi
mereka ada. Mereka sejenak menemani kesendirian." Ia lalu menutup matanya
perlahan,seolah mencoba untuk menyelubungi diri dan bersembunyi dari kenyataan.
Senyumnya jatuh seketika,begitu pun tetesan air bening hangat yang jatuh ke
pipi,hal yang tak dapat ia sampaikan lewat kata-kata hanya bisa ia ucapkan
lewat air mata. Perasaan yang tak dapat ia hindarkan lagi akhirnya ia
keluarkan. Aura kesedihan terpancar dari beningnya tetesan keluhan kehidupan. Perasaan
yang teiris dapat segera diobati dengan tangisan kecil dibalik ujung hati.
Rapuh,perasaannya begitu rapuh. Tak ada yang dapat menampung kesedihan dan
kehampaannya. Semua itu tak dapat sirna begitu saja. Tak semudah membalik
telapak tangan. Senyum juga begitu.
Rambut hitamnya
kembali menari terhembus angin,panjang dan halus,bahkan angin pun dapat
melewati ujung-ujung nya. Tangan kanannya ia simpan dibelakang,ujuang jarinya
memegang ujung rok yang berenda-renda. Sedangkan tangan kirinya menahan rambut
yang terus dihembus angin. Pandangannya kini ia alihkan ke langit utara,tempat
dimana jauh dari pelangi dan dekat dengan matahari. Sambil mengira ngira
sesuatu,badannya kembali di ia putar. "Hm...sudah jam segini... Aku harus
kembali pulang... Pelangi tak bisa menungguku.." sambil menghembuskan
nafas dan diam sejenak,tatapannya tertuju kebawah,tempat genangan air
merefleksikan bayang-bayang kesedihannya. Senyum simpul Ia keluarkan demi
menyamarkan perasaannya,sakit,mungkin tak ada yang dapat mengerti. Langkah demi
langkah,kakinya terus menyusuri anak tangga menuju kebawah. Sesekali,ia memutar
badan dan melihat ke arah tujuh cahaya itu,memastikan kalau 'Keajaiban' itu
belum hilang sepenuhnya.
Semua ada
proses,maka setiap 10 anak tangga ia lalui,pandangannya kembali melihat
belakang. Tak ingin melewatkan satu cahaya pun dan kembali memastikan. Senyum
yang menempel belum hilang,namun air mata yang kan mengalir pelan akan memulai
merapuhkan perasaannya lagi. "Matahari terbenam... Kini apakah aku akan menyaksikan
perpisahan? Dibalik bayang-bayang oren keemasan itu?" ia bertanya pada
dirinya.
Tidak,ini belum
berakhir! Hati kecilnya berteriak ketakutan. Semua akan kembali terjadi seperti
di awal! Hati yang lain ikut menentang. Mengambil nafas panjang dan dalam,lalu
dihembuskan. Ketenangan sejenak memulihkan. Kini ia bisa berpikir jernih
kembali. "Bukankah begitu?" Tak sadar sudah berapa langkah ia
tapaki,akhirnya ia tersadar dan melihat kebelakang. Cahaya putih yang berkumpul
dan membentuk berbagai cerminan warna emosi itu,kini hilang dihadapan mata biru
laut sang gadis. Tercengang dan tak dapat mengeluarkan kata-kata,mulutnya hanya
bisa menganga,tak ingat bahwa segalanya kan musnah. Hilang bagai hujan yang
reda,dan perasaan yang tercabik kecil,semua telah diatur yang Maha kuasa.
"Sirna sudah... Menghilang dan tertelan mentari malam yang kan
datang..." Kepalanya tertunduk,melihat kumpulan air hujan bercampur air
mata yang menetes."Tidak.... Ini belum berakhir. Ini masih awal. Ini hanya
permulaan.... Ya,kan?" nada suaranya pecah.
Setetes demi
setetes,air mata langit pun turun. Refleksi lautan biru berubah menjadi gelap
keabuan,seolah menunjukkan emosi suram. Menyadari hal itu,ia mengangkat
kepalanya,melihat ke langit. Tak sadar hujan telah turun,ia segera berlari
kembali dengan cepat menuju bawah "Cepat,aku harus pulang!" ia teriak
dengan suara kecil untuk menyemangati dirinya sendiri. Langkah pun ia
percepat,tetapi lebih lambat dari tetesan hujan yang turun. Kedua tangannya melindungi
kepala,tetapi tetap tak dapat menghindari basah akibat air yang jatuh. Ia
berlari semakin kencang,sambil melihat sekeliling untuk mencari tempat berteduh
dari hujan. Jalanan sepi,desa kecil itu bagai tak berhuni. Sepi bukan berarti
tak ada orang. Hanya beberapa keluarga saja yang masih menetap di desa terindah
bagi gadis itu. Mungkin ia sendiri saja. Menaiki tanjakan,akhirnya ia temukan
sebuah gubuk kecil untuk berteduh. "Untung saja." ia mengeluarkan
nafas lega. Basah dan dingin,ia mengigil dengan rambut yang kuncup. Baju
seragam dan tubuhnya basah,tak terlindungi dari hujan. Dengan tatapan sedih,ia
memandang genangan air yang merefleksikan dirinya. "Hujan...bukankah itu
berarti pelangi kan kembali muncul?" seketika ia semangat. "bukankah
itu hebat?" "Keajaiban itu kembali datang dua kali hari ini. Itu
pertanda semangat!" ia mengepal kedua tangannya dan melemparkan
semangatnya di udara. "Bukankah hari ini indah?" senyum kecil dibalik
tubuh yang menggigil terlukis jelas. Ia berdiri tegap di dekat gubuk tua itu
sambil menunggu. Jika ia membawa jam,mungkin ia tahu kapan hujan kan segera
berhenti. Hanya saja hari ini kurang beruntung,jadi yang ia hanya bisa
menunggu.
Rintikan hujan
yang lama-kelamaan berhenti,sambil menunggu dengan sabar,ia mendengar
ketenangan dibalik suara tangisan langit. Tetesan-tetesan bening itu perlahan
berhenti,tapi tetap tak tahu kapan pasti. "Aku tak bisa menunggu lebih
lama lagi!" Dan dengan cepat Ia langsung melangkah pergi dari gubuk
itu,tak dapat menahan langkahnya pergi. Genangan air di jalanan merefleksikan
perasaan tak sabarnya. Gadis yang mencintai pelangi dibanding apapun,
menganggap keajaiban yang diperlihatkan Yang Maha Kuasa kepadanya sebagai suatu
penghargaan. Tujuh cahaya yang dibiaskan diatas lautan biru di angkasa itu
menjadi kekasihnya dikala sendiri, mungkin setiap saat. "Ini dia!" Ia
bersorak dengan riang gembira,dengan perasaan tak sabar di hatinya,bahkan
senyum lebar dan cerah itu tergambar di wajahnya. "Sekali lagi!" Ia
berseru dengan ceria, berbeda dari seruannya pada keajaiban pertama. Tak peduli
ia akan tergelincir karena licinnya jalanan,ia tetap melangkah maju Ia mulai
berjalan naik,perlahan tapi pasti,menaiki anak tangga menuju bukit teratas.
Rintikan hujan berhenti seketika ketika ia semakin naik dan semakin dekat
dengan apa yang ia tuju. "Ayo kita lihat bersama!" Suara lembut yang
keluar dengan hatinya membuat suasana tenang. Kali ini ia melangkah
pasti,menuju cahaya putih bias yang menjadi teman hidupnya sejak kecil,dengan
hati yang berbeda. "Tunggu aku!"
Kaki itu lebih dulu sampai diatas bukit.
Dengan air hujan yang telah berhenti, ia menatap ketempat yang sama dimana
'keajaiban' itu berada. Pandangan yang menatap lurus kedepan tak
berkedip,menantikan harapan munculnya tujuh cahaya itu lagi."dimana?
Dimana mereka?!" ia mulai panik,dan mata mulai ingin meneteskan air mata
lagi. Apa ia kurang beruntung kali ini? Mungkin,tapi keajaiban tak ada yang
bisa menebak. Langit belum tersenyum padanya,langit masih ingin menangis lagi.
Emosi meluap di dada, tak dapat di ungkapkan. Bersamaan itu,suara keras menggelegar
diudara.Cahaya api emas dengan cepat menyambar dengan kecepatan tertentu,dan
suara keras bagai amarah yang keluar.Petir,itu dia.
Gadis itu menutup
telinganya,suara tajam yang ia benci tak ingin didengar."benci...aku benci
kilat..." ucapnya merintih ngeri. "apakah setelah langkah ke
sepuluh,keajaiban itu kembali lain waktu?" ia mengira-ngira,tapi bersamaan
dengan itu,petir kembali menyambar. Dekat,cahaya api itu dekat sekali. Jika ia
tak mengelak,mungkin kakinya akan hangus terbakar. Ketika menghindar kilat yang
menyambar ke arah dirinya,ia kembali terjatuh. Ditambah anak tangga yang berada
dibelakangnya,ia terpeleset dan jatuh. Luka,kaki yang terkena luka bakar dan goresan-goresan
kecil yang banyak,serta memar dan darah dimana-mana,itu tak dapat menyakitinya.
Kehilangan keseimbangan dan tak dapat berdiri,tangannya bahkan tak dapat
membantunya berdiri. "kenapa....ini....begitu sakit?" tangisnya
sedih. Suara merdu itu kembali pecah.
Dengan pandangan
yang mulai kabur,dan tatapan yang secara abstrak melihat ke angkasa
luas,perlahan memudar,tapi hal terakhir yang ia ingat adalah kilatan api yang
menyambar cepat dari udara. "Kebahagiaan.... Akankah sirna?" tanya
nya dalam hati,yang perlahan mulai menghilang. Sesuatu terjadi begitu
saja,sekejab dan menghilang. Secepat kilat menyambar,dan seindah pelangi
bercahaya. Turun dari lautan angkasa. Jagad raya yang luas ini tak akan pernah
berhenti membuat kita terpukau. Keindahan yang patut kita syukuri harus kita
hargai. Seberapa menakutkannya itu,seberapa indahnya itu,seberapa luar biasanya
itu,apapun itu. Gadis itu tak sendirian,sahabat sekaligus kekasih yang selalu menemaninya
dikala sepi,seolah mengerti kesendiriannya. Bias cahaya setelah langit
menangis,senja keemasan di kala matahari terbenam, Taburan ribuan cahaya
harapan ditemani matahari malam yang redup,semua, adalah kebahagiaan
baginya.Mungkin bukan berupa makhluk,itu tak apa.
Seolah hanya
mereka yang mengerti perasaannya,seolah hanya mereka yang mengerti
pemikirannya,seolah hanya mereka yang mengerti keadaanya. Dan itu
mungkin,adalah kehidupan pribadi gadis itu,yang tengah terbaring lemah di atas
tanah dengan lumuran darah dimana-mana. Petir pun berhenti menyambar,dan
perlahan lenyap. Waktu berganti,tapi kelemahan kekuataannya untuk sadar belum
juga memberi tanda apapun padanya. Dan detik terus berputar kearah yang
sama,tapi tak mengulang peristiwa yang serupa. Dan tangisan langit mereda,kini
cahaya putih keluar. Perlahan ia bangun,dengan mata yang masih sukar terbuka.
"apa yang terjadi padaku?" tanya nya lemah dengan suara bergetar.
Tubuhnya kaku.
Satu per satu
anggota tubuh ia gerak,mencoba bangkit dari genangan darah ditanah. "aku
bisa."ucapnya mencoba menyemangati diri sendiri. Gaun indah dan rambut
hitam mengkilap itu kini basah dan kotor,ternodai lumpur,air hujan,dan darahnya
sendiri. Ribuan luka fisik dan jiwa ikut membebani,mencoba kembali
melemahkannya. Tak seorang pun dapat menolongnya,tak seorang pun yang dapat
membantunya. Tak ada siapa-siapa. Ia mengangkat kepalanya keatas,mencari
sesuatu yang mungkin dapat menjadi harapan."eh,kemana perginya cahaya
itu?" ia melirik sekitar. "Inikah akhir?" kepalanya tertunduk
sedih."inikah isi cerita hidupku?" pertanyaan itu terus terlontar
lewat bibir merah cherry nya. Tak peduli dengan luka-luka disekujur tubuhnya,ia
pun menangis. "kenapa aku harus menjalani ini?" seluruh semangatnya
hilang total. "tidak,aku tak ingin itu terjadi!" "sabar,apakah
aku harus terus bersabar? Apa aku harus menjalaninya? Apakah aku dapat menemui
harapan dan keajaiban itu kembali? Jawab aku!"ia menggelengkan kepalanya,tak
menerima semua keadaan yang telah terjadi."tidak mau!" Suara keras
berteriak di udara, seolah sampai ke atas langit. Tapi tetap tak ada yang
menjawabnya. "kenapa begitu sulit? Begitu sakit."
Story by : MigiRuki / Himawari Fa-Chan


