Posted by : Migi Ruki Rabu, 21 Januari 2015



    Apa yang akan kau lakukan untuk membuat hidupmu berarti? Apa yang akan kau lakukan ketika kau tak mampu membuat sebuah arti di dalam hidupmu yang hanya sekali? Apakah kau hanya akan berdiam diri dan membiarkannya tak berarti? Atau melakukan segala cara agar menjadikannya berarti?
   
   Pertanyaan itulah yang membuatku terus hidup, yang menjadi penopang hidup dan menjadi pertanyaan di dalam hidupku. Aku, yang seorang gadis bisu, tak dapat mengucapkan jawaban-jawaban dari pertanyaan itu. Bibirku bergerak tak bersuara, hanya kata-kata hati yang dapat terdengar di dalam diam. Tak ada telinga yang dapat mendengarku, Tak hanya bisu, aku juga mengalami lumpuh pada kaki. Terlahir bisu dan lumpuh, membuatku merasa bagai tak berguna dan berarti. Apa yang dapat kulakukan dalam keadaan cacat seperti ini? Hanya dapat menyusahkan orang lain, itulah yang pasti.
   
    Iri melihat orang lain bisa melakukan apapun, bermain dan belajar, itulah perasaan pertama yang kurasakan. Jika aku mampu, mungkin aku akan melakukan segala cara agar mewujudkan keinginanku. Tetapi aku hanya bisa berdiam diri. Di dalam kamar kecil ini sendiri sambil melihat ke arah luar jendela. Sebuah lapangan kecil yang terletak tak jauh dari rumahku menjadikan hiburan tersendiri bagiku. Walaupun aku tak dapat melakukan apapun, hanya bisa melihat anak-anak bermain di lapangan setiap harinya kadang kala membuat hatiku ikut gembira. Melihat tawa mereka yang sedang bermain membuat hatiku tentram.Pemandangan tak berubah inilah yang satu-satunya membuatku tersenyum bahagia melihatnya.
     
     Tapi pada suatu hari, di hari yang biasa, aku melihat sesuatu yang pertama kalinya bagiku—sesuatu yang membuat hariku merasa berbeda dari biasanya. aku melihat seorang perempuan yang sepertinya seumuran denganku, selalu duduk di bangku di tepi lapangan sambil memegang sebuah alat musik gesek, biola. Ini pertama kalinya aku melihat seseorang yang melantunkan musik lembut yang membuat hatiku penasaran dan terpana. Gadis cantik yang memiliki rambut hitam panjang yang diikat ekor kuda, dan sebuah biola yang selalu ia bawa dan dimainkan. Setiap petikan dari jari-jemarinya yang lembut menghasilkan melodi-melodi indah yang keluar dari biola kayu tuanya.
    
   Setiap hari ia mainkan biola itu ketika hari menjelang siang. Tak peduli panas yang menyengat, ataupun hari sejuk dan berawan.  Pemandangan yang biasanya hanya melihat anak-anak yang bermain bola, kini bertambah dengan lantunan melodi yang indah. Setiap hari pula aku terus mendengarkan permainan biolanya. Sungguh indah, dengan nada-nada yang lembut. Dengan baju indah dan rambut panjang terikat berkibar-kibar, membuatnya terlihat semakin menarik. Aku ingin sekali bisa berteman dengan gadis yang selalu bermain biola dari balik jendelaku itu, do’aku dalam hati.
     
     Dan sepertinya, tuhan mengabulkan permohonanku...
     
     Suatu ketika, seperti biasa anak-anak bermain bola bisbol di lapangan. Permainan itu sungguh menyenangkan dengan sorakan anak-anak lain yang ikut menyemangati. Aku yang menonton pertandingan itu dari jauh, ikut berteriak di dalam hati. Sambil melihat-lihat ke arah lapangan, aku belum melihat kehadiran gadis itu. Tapi tak lama ketika menunggunya, ia hadir juga. Seperti biasa, membawa biola kayu nya dan duduk di bangku di tepi lapangan. Anak-anak lain yang sudah terbiasa dengan kehadiran gadis itu ada yang mengacuhkannya, ada yang sesekali melirik permainan biolanya. Siapapun yang mendengar suara biola dari gadis itu pasti tertarik. Begitulah yang kupikirkan ketika melihat tangannya yang cekatan menggesek senar-senar itu dengan ujung jarinya.
     
    Keasyikan mendengarkan biolanya, aku sampai tak sadar dengan ke datangan sebuah bola bisbol yang terlempar hingga menembus kaca jendelaku. Kacanya pecah berkeping-keping, mengenai tanganku ketika aku mencoba melindungi diri. Dan tanpa sadar pula, anak perempuan itu datang menuju rumahku, berjalan ke halaman samping untuk mencari bola yang terlempar jauh. Saat ia berdiri tepat di depan jendelaku, aku menyerahkan bola bisbol itu padanya. Ia terlihat agak terkejut di saat ia melihatku yang tengah terduduk di tempat tidur, memberikan bola itu padanya dengan tangan yang bersimbah darah.
    
   “Kau terluka?”
   
    Aku hanya memberi senyuman kecil, ia terlihat mengkhawatirkanku.
    
    “Hei, kalau main bola liat-liat dulu ke arah mana kau melempar!” sambil melempar bola itu kembali kepada anak-anak di lapangan, ucapannya terlihat marah. “Kau baik-baik saja? Darahnya mengenai bajumu.”
     
    Ku gelengkan kepalaku, memberi tanda ‘Aku baik-baik saja’ kepadanya lewat isyarat tangan. Melihat tingkah laku ku, ia menyadari bahwa aku tak bisa berbicara. Sejenak, ia berpikir panjang untuk bisa berkomunikasi denganku.
   
   “bolehkah aku masuk?” tanya gadis itu, aku mengangguk dan melambaikan tanganku, mengajaknya untuk datang ke kamarku. Setelah ia masuk kerumah, ia datang sambil membawa biolanya.
   
   “Kau baik-baik saja?” ia mengulangi pertanyaan yang tadi, aku kembali mengangguk. “Kau punya perban? Biar ku obati kau.”
    
   Ku tunjuk laci meja di sampingku, lalu diambilnya segulung perban putih dan obat tetes luka. Sambil mengobati tanganku, aku bertanya sesuatu. “Namamu siapa?
   Tak mengerti apa yang ku isyaratkan, ia memberikan handphone nya dan membuka aplikasi catatan. 

  “Tulislah disini.” Mengikuti perintahnya, aku menuliskan kembali pertanyaan tadi.
  
   “Namaku? Violetta. Namamu?”
   
   “Namaku Savanna.”
   
   “Savanna? Nama yang bagus. Tapi aku belum pernah melihatmu sebelumnya, kau tinggal di sini?”
   Aku kembali mengetikkan kata-kata di hapenya, sejenak pembicaraan kami menjadi terdengar sedikit akrab. Dan aku baru tahu, ia memiliki nada bicara yang dingin, tetapi baik.
  
   “iya, tapi aku selalu melihatmu di lapangan itu. Aku suka permainan biolamu.”
  
   “kau selalu mendengarkanku? Ah, terima kasih banyak.”
   
   Aku tersenyum lembut padanya. Kami terus mengobrol banyak hal dan menjadi sangat akrab. Ia menceritakan banyak hal dengan singkat dan jelas, benar-benar orang yang dingin dan menarik. Sambil berbicara lewat komunikasi masing-masing, aku merasa sangat bahagia. Sepertinya tuhan mendengarkan permohonanku, aku ingin mengenal gadis ini lebih jauh lagi.
   
   “kenapa kau suka bermain biola?”
   
   Sejenak ia terdiam, memandang biolanya. “aku... suka bermainnya, karena dialah yang membuatku tenang. Kehidupanku yang rumit dan sulit membuatku stress dan selalu frustasi. Keluargaku adalah orang yang ‘sempurna’, menuntutku agar menjadi sukses dengan seluruh kesempurnaan yang kami miliki. Aku bersekolah, bekerja, dan melakukan banyak hal agar meraih cita-citaku dengan dorongan orang tua, keluarga, dan lingkungan. Aku dahulu berpikir bahwa menjadi sukses adalah hal yang sangat berharga, tetapi itu semua hanya menghancurkanku saja. Kakekku memberikan biola tua ini untukku agar aku bisa terlepas sejenak dari kesibukan yang ada. Biola ini... sangat berarti buatku.”
    
   Melihat senyumnya yang hangat ketika bercerita, membuatku merasakan hal yang sama. Dia dan aku, adalah orang yang memiliki kekurangan, mencoba mencari arti dengan cara yang berbeda-beda. Sulitnya hidup membuat kami ingin menyerah dan hancur. Violetta, adalah gadis sempurna, tetapi juga memiliki kekurangan didalamnya. Tak ada manusia yang sempurna, semua pasti memiliki hal yang tak bisa disempurnakan. Itulah yang kupikirkan. Aku juga menceritakan kisahku sendiri kepadanya, kisah tentangku yang terlahir cacat. Mendengar ceritaku, ia seperti merasakan hal yang sama denganku, hal yang tak ia duga.
   
    “..... kalau boleh, aku ingin memainkan biola ini untukmu, Savanna.”
    
   Mendengar itu, aku menjadi sangat senang. “benarkah? Wah, terima kasih!”
    
   Ia seperti menemukan tempatnya berada, dan aku menemukan teman untuk mengisi kebahagiaanku. Kami pun menjadi teman, lewat hal kecil tak terduga. Sejak saat itu, ia selalu datang untuk bermain biolanya di kamarku. Semakin lama kami semakin akrab. Yang berawal dari suara biola yang kudengar dari balik jendela dan kejauhan, kini terdengar sangat dekat. Aku sungguh senang. Ini pertama kalinya aku begitu senang memiliki teman pertama. Setiap hari ia datang setelah pulang sekolah atau pulang dari bekerja di perusahaan milik ayahnya, dari kesempurnaan kini menjadi biasa saja. Kadang kala ia tak bisa datang karena sibuknya pekerjaan dan kegiatan sekolah. Tapi itu tak membuatku sedih, dengan bertemannya kami berdua itu sudah membuatku cukup senang.
      
   Tapi pada suatu hari, ketika ia bermain ke kamarku dan memainkan biolanya seperti biasa, wajahnya terlihat sedih. Tidak seperti biasanya yang tenang dan menikmati permainannya, kini raut wajahnya berubah. Dengan khawatir, ku tanya padanya apa yang terjadi. “Ada apa? Apa kau baik-baik saja?”
    
   Ia meletakkan biolanya ke samping sisi tempat tidurku, memandang lantai dengan sedih. “Ayahku.... tidak memperbolehkan aku bermain biola lagi. Ia tahu bahwa aku berteman denganmu, dan ayahku bilang bahwa aku tak boleh berteman orang selain dari orang-orang ‘sempurna’ yang selalu ayah bicarakan. Tapi berteman denganmu sungguh menyenangkan, aku merasa bagai menemukan bagian dari hidupku yang lainnya. Bermain biola seperti ini sepuas hatiku rasanya bagi mimpi. Tapi... ayahku sangat marah dan membencinya.”
   
   Tak dapat melakukan apa-apa, aku hanya bisa mengusap-usap kepalanya dengan lembut. Aku memang tak sempurna, dan aku tahu keluarganya tak akan pernah memperbolehkan anaknya berteman dengan orang cacat sepertiku. Tak bisa berbicara dan berjalan karena lumpuh, sudah pasti tak ada yang mau berteman denganku. Dan seketika saja, setelah aku berpikir seperti itu, sebuah mobil sedan hitam berhenti di depan rumahku. Apakah itu ayahnya, firasatku berkata seperti itu. Ketika seorang lelaki dewasa keluar dari mobil dengan memakai jas hitam, Violetta terlihat kaget. Lelaki itu masuk kerumahku dengan tergesa-gesa, wajahnya terlihat marah. Ketika menemukan Violetta di dalam kamarku, ia langsung menariknya dengan wajah amarah.
    
   “kita pulang sekarang. Sudah berapa kali ayah katakan, jangan pernah berteman dengan gadis cacat itu lagi?!”
   
   “tapi yah... ia temanku. Savanna sahabatku, bukan mereka yang ayah pilihkan untuk aku!”
    
   “anak kurang ajar, ikut ayah sekarang! Dan sehabis ini, jangan pernah kau bermain keluar lagi, apa lagi bermain biolamu itu. Kau akan di kurung hingga lulus sekolah.”
    
   Dengan suara tangisan Violetta yang memecah di kamarku, aku berusaha mempertahankannya. Tapi apa daya, kaki dan suaraku tak dapat menghentikannya. Ia pergi di tarik ayahnya masuk ke dalam mobil, dan segera melaju dengan cepat tanpa pamit. Hanya sebuah biola miliknya yang tertinggal di kamarku, sebuah perpisahan pahit yang menyedihkan. Seperti halnya Violetta, aku juga merasakan hal yang sama. Sahabatku di tarik pergi, dan aku tak bisa melakukan apa-apa. Apa yang aku bisa lakukan di saat seperti ini? Tak ada. Aku hanya bisa menangis.
     
   Beberapa hari berlalu setelah kejadian itu. Ayahnya memang melakukan sesuai apa yang ia katakan, gadis itu tak ku temukan lagi di hari-hari berikutnya. Suara biola yang biasanya menghiasi kamarku yang sepi, kini hilang. Teman pertamaku tak pernah ku temukan lagi. hanya biola yang selalu ia mainkan saja yang tersisa dari kenangannya. Tak ada kabar yang ku dengar darinya lagi, bahkan kabar angin sekali pun. Menunggu kehadirannya adalah satu-satunya cara aku merindukannya.
    
   Setiap hari aku melamun, permainan anak-anak di lapangan tak membuatku terkesan lagi. dari balik jendela, aku menunggu gadis yang bermain biola itu lagi. sambil berpikir, aku hanya dapat membuat orang terluka dan sedih saja. Hidupku tak berarti apa-apa, bahkan untuk orang yang memberi arti dalam hidupku. Sedih mendengarnya, dan pahit untuk diterima.
   
   “Hei, kalian tahu? Kakak yang sering main biola disana kecelakaan lho?”
   
   “Ah, benarkah?”
   
   “Iya, aku melihat beritanya di tv! Ia kecelakaan di tabrak mobil pas mau pulang, kan?”
    
   Mendengar cerita beberapa orang anak yang lewat di depan rumahku, membuatku spontan kaget. Aku segera meminta bantuan pada nenekku yang merawatku di rumah, memohon padanya untuk membantuku pergi ke rumah sakit tempat ia di rawat. Aku bertanya pada anak-anak itu tentang apa yang terjadi dan dimana ia berada sekarang, dan salah satu dari mereka menjawab bahwa ia di rawat di rumah sakit terdekat. Dengan bantuan nenek, aku langsung berangkat ke rumah sakit menaiki taksi. Dan sesampainya disana, aku melihat kedua orang tuanya yang menangis di depan pintu UGD. Lewat perantara nenek, aku bertanya apa yang terjadi.
    
  “Dadanya terhimpit bagian depan mobil saat ditabrak ketika pulang dari bekerja. Jantungnya tak berfungsi lagi, dokter bilang nyawanya terancam.”cerita salah seorang perawat. “ia butuh donor jantung dengan segera...” lanjut perawat itu. Aku terdiam sejenak, mencoba mencari segala cara agar dapat membantu sahabatku itu. Sambil berpikir dalam, aku pun mengambil keputusan. Ini satu-satunya kesempatanku memberi arti untuk hidup sesorang...
   
  Ku beri isyarat pada perawat itu, menunjuk dadaku dan tersenyum. “ambillah jantungku.” Sejenak perawat itu terlihat agak kebingungan. Tapi dengan kepastian ku dan tekadku yang kuat, akhirnya ia memberitahukan hal ini pada keluarganya. Ketika ayahnya datang kepadaku sambil mangis, ku beri ia biola kesayangan Violetta. Sebuah surat kecil kuselipkan di balik senar biola. Ku katakan kepada mereka untuk jangan khawatir. “tolong... jangan hentikan ia, biarkan ia bermain biola lagi... aku mohon... sebagai gantinya, aku akan memberikan jantungku kepada anak kalian...”
   
  Mendengar itu, ayahnya terdiam. Tak ada pilihan lain selain menyutujuinya, tetapi setelah itu mereka meminta maaf telah berbuat kasar padaku sebelumnya dan maaf atas perlakuan mereka pada anaknya sendiri. Dengan waktu yang tersisa, aku meminta segera untuk mendonorkan bagian dari diriku untuk sahabatku tersebut. Menolongnya dengan segenap kekuatanku, berkorban deminya. Sekali saja, aku ingin membuat sebuah arti walau itu untuk hidup orang lain.
  
    Dan tidak lebih dari sejam, operasi transplantasi jantung berjalan lancar.

    Ku yakin, sekarang keluarganya menyesal atas perbuatan mereka memaksakan cita-cita pada Violetta. Setelah berbicara kepada mereka, meyakinkan mereka akan kesempurnaan tidaklah penting tetapi kesederhanaan yang membahagiakan. Setelah operasi ini, aku berharap pada sahabatku untuk terus bermain biola dan terus mencari kebahagiaan yang sangat berarti kepadanya. Pada akhirnya, aku bisa memberi sebuah arti kecil kepada seseorang. Jawaban yang kucari sudah ku temukan.  .....Terima Kasih.”
                                                                           ----


Author : Fanny R / Himawari Fa-chan.
[Cerpen ini sebenarnya adalah cerpen untuk lomba bulan bahasa yang di adakan oleh sebuah universitas yang saya buat setahun yang lalu. Tapi karena tidak sempat mengirim naskahnya jadi saya tidak ikut dalam perlombaan tersebut. Yah, sebenarnya sayang banget. Tapi apa boleh buat, sebagai gantinya saya post kan aja di blog saya ini ^^"]

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © 2013 Rainbow Planet - Gumi - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -