Posted by : Migi Ruki Sabtu, 10 Mei 2014


      
                              

     
            Lautan refleksi di angkasa, awan-awan putih suci melayang perlahan, dibawah itu berdiri tegak seorang gadis mencari kedamaian. Di atas pemandangan yang indah nan luar biasa, dan gadis yang elok rupawan itu, seolah terhubung. Senyum simpul kecil terlukis di wajah, perasaan yang terkirimkan kepada yang tertuju tanpa alamat, tanpa tujuan, tanpa batas, tak terhentikan. Mentari pagi menyambut sang gadis, dan bumi tempat berpijak. Dua kaki yang menginjak tanah tempat kembali tak tergoyahkan, bagai hatinya. Dua mata biru bak batu safir memandang ke garis lurus horizontal angkasa, tertuju pada putih dan birunya luas langit. Rambut hitam panjang itu menari-nari tertiup angin, dan rok kembang berenda-renda pun ikut mengikuti arus angin.
     “Mungkin hanya ini yang bisa ku sampaikan.” Gadis itu menatap langit, mata birunya menatap awan putih yang melayang. Pandangan sedih terpancar lewat matanya, senyum kecil terlukis di bibir merahnya. Seikhlas mungkin ia keluarkan lewat hatinya. “Kau tau....” ia melanjutkan kembali,  jari telunjuk mengarah ke langit, secara abstrak ia tunjuk ke tempat terjauh di atas refleksi lautan di angkasa. “Disana ada keajaiban”.
     Ia tertawa kecil, “Kau pasti bingung dan bertanya-tanya”. Sambil mengambil nafas panjang,lalu ia hembus dari hidung. Ia membalikkan badannya. “Keajaiban itu adalah tujuh cahaya yang datang setelah hujan reda.” Senyumnya melebar, bahkan semakin lembut. Setetes air mata jatuh. “Jika kita membelakangi matahari, maka tujuh cahaya itu akan terlihat jelas. Walau samar terlihat.” Air mata kembali berjatuhan.
     Tepat setelah kata-kata itu, ‘Keajaiban’ yang ia maksud muncul tepat di belakangnya,walau tempatnya jauh untuk hadir, tapi terlihat dekat. Angin sejuk berhembus, suasana hangat setelah hujan membuat hati dan perasaan damai. Genangan air diberbagai tempat menjadi cermin pandangan. Gaun selutut yang ia kenakan menari-nari tertiup angin, walau sudah mencoba melawan tapi tetap tak dapat terelakkan. “Lihat.” Ia melanjutkan, “Berapa warna yang kau lihat disana?” jarinya menunjuk cahaya warna-warni setengah lingkaran yang jauh, “Tujuh, apa aku salah?” nadanya sedikit berubah, kali ini ia memang bertanya. Ia menyeka air matanya sejenak, tak ingin diganggu sementara dengan perasaan rahasia dihatinya.
      Mata biru bak batu safir itu kembali melihat kejauhan semampu mata memandang,badannya ia balikkan sedikit,kearah cahaya yang berhadapan dengan matahari,dan tepat didepannya,'keajaiban' yang dimaksud seolah berdiri tegap,menyambut senyumnya. "Tujuh warna itu disebut Pelangi." Matanya terbuka lebar,benar-benar puas akan hal yang ia lihat. "bukankah mereka hebat? Warna-warna lembut itu tak bercampur satu sama lain." Jari-jarinya bergerak naik turun,menunjuk langit yang bercahaya warna-warni dikejauhan. "dari atas ke bawah,bukankah mereka menarik? Amarah,bahagia,ketenangan,kesedihan,kepercayaan,kehampaan... Semua ada pada satu cahaya putih." ucapnya lembut dengan nada santai.
       "Kita tak tahu,yang manakah ujungnya,ada apa di ujungnya,seluas apa Pelangi itu. Tapi mereka ada. Mereka sejenak menemani kesendirian." Ia lalu menutup matanya perlahan,seolah mencoba untuk menyelubungi diri dan bersembunyi dari kenyataan. Senyumnya jatuh seketika,begitu pun tetesan air bening hangat yang jatuh ke pipi,hal yang tak dapat ia sampaikan lewat kata-kata hanya bisa ia ucapkan lewat air mata. Perasaan yang tak dapat ia hindarkan lagi akhirnya ia keluarkan. Aura kesedihan terpancar dari beningnya tetesan keluhan kehidupan. Perasaan yang teiris dapat segera diobati dengan tangisan kecil dibalik ujung hati. Rapuh,perasaannya begitu rapuh. Tak ada yang dapat menampung kesedihan dan kehampaannya. Semua itu tak dapat sirna begitu saja. Tak semudah membalik telapak tangan. Senyum juga begitu.
       Rambut hitamnya kembali menari terhembus angin,panjang dan halus,bahkan angin pun dapat melewati ujung-ujung nya. Tangan kanannya ia simpan dibelakang,ujuang jarinya memegang ujung rok yang berenda-renda. Sedangkan tangan kirinya menahan rambut yang terus dihembus angin. Pandangannya kini ia alihkan ke langit utara,tempat dimana jauh dari pelangi dan dekat dengan matahari. Sambil mengira ngira sesuatu,badannya kembali di ia putar. "Hm...sudah jam segini... Aku harus kembali pulang... Pelangi tak bisa menungguku.." sambil menghembuskan nafas dan diam sejenak,tatapannya tertuju kebawah,tempat genangan air merefleksikan bayang-bayang kesedihannya. Senyum simpul Ia keluarkan demi menyamarkan perasaannya,sakit,mungkin tak ada yang dapat mengerti. Langkah demi langkah,kakinya terus menyusuri anak tangga menuju kebawah. Sesekali,ia memutar badan dan melihat ke arah tujuh cahaya itu,memastikan kalau 'Keajaiban' itu belum hilang sepenuhnya.
       Semua ada proses,maka setiap 10 anak tangga ia lalui,pandangannya kembali melihat belakang. Tak ingin melewatkan satu cahaya pun dan kembali memastikan. Senyum yang menempel belum hilang,namun air mata yang kan mengalir pelan akan memulai merapuhkan perasaannya lagi. "Matahari terbenam... Kini apakah aku akan menyaksikan perpisahan? Dibalik bayang-bayang oren keemasan itu?" ia bertanya pada dirinya.
      Tidak,ini belum berakhir! Hati kecilnya berteriak ketakutan. Semua akan kembali terjadi seperti di awal! Hati yang lain ikut menentang. Mengambil nafas panjang dan dalam,lalu dihembuskan. Ketenangan sejenak memulihkan. Kini ia bisa berpikir jernih kembali. "Bukankah begitu?" Tak sadar sudah berapa langkah ia tapaki,akhirnya ia tersadar dan melihat kebelakang. Cahaya putih yang berkumpul dan membentuk berbagai cerminan warna emosi itu,kini hilang dihadapan mata biru laut sang gadis. Tercengang dan tak dapat mengeluarkan kata-kata,mulutnya hanya bisa menganga,tak ingat bahwa segalanya kan musnah. Hilang bagai hujan yang reda,dan perasaan yang tercabik kecil,semua telah diatur yang Maha kuasa. "Sirna sudah... Menghilang dan tertelan mentari malam yang kan datang..." Kepalanya tertunduk,melihat kumpulan air hujan bercampur air mata yang menetes."Tidak.... Ini belum berakhir. Ini masih awal. Ini hanya permulaan.... Ya,kan?" nada suaranya pecah.
     Setetes demi setetes,air mata langit pun turun. Refleksi lautan biru berubah menjadi gelap keabuan,seolah menunjukkan emosi suram. Menyadari hal itu,ia mengangkat kepalanya,melihat ke langit. Tak sadar hujan telah turun,ia segera berlari kembali dengan cepat menuju bawah "Cepat,aku harus pulang!" ia teriak dengan suara kecil untuk menyemangati dirinya sendiri. Langkah pun ia percepat,tetapi lebih lambat dari tetesan hujan yang turun. Kedua tangannya melindungi kepala,tetapi tetap tak dapat menghindari basah akibat air yang jatuh. Ia berlari semakin kencang,sambil melihat sekeliling untuk mencari tempat berteduh dari hujan. Jalanan sepi,desa kecil itu bagai tak berhuni. Sepi bukan berarti tak ada orang. Hanya beberapa keluarga saja yang masih menetap di desa terindah bagi gadis itu. Mungkin ia sendiri saja. Menaiki tanjakan,akhirnya ia temukan sebuah gubuk kecil untuk berteduh. "Untung saja." ia mengeluarkan nafas lega. Basah dan dingin,ia mengigil dengan rambut yang kuncup. Baju seragam dan tubuhnya basah,tak terlindungi dari hujan. Dengan tatapan sedih,ia memandang genangan air yang merefleksikan dirinya. "Hujan...bukankah itu berarti pelangi kan kembali muncul?" seketika ia semangat. "bukankah itu hebat?" "Keajaiban itu kembali datang dua kali hari ini. Itu pertanda semangat!" ia mengepal kedua tangannya dan melemparkan semangatnya di udara. "Bukankah hari ini indah?" senyum kecil dibalik tubuh yang menggigil terlukis jelas. Ia berdiri tegap di dekat gubuk tua itu sambil menunggu. Jika ia membawa jam,mungkin ia tahu kapan hujan kan segera berhenti. Hanya saja hari ini kurang beruntung,jadi yang ia hanya bisa menunggu.
      Rintikan hujan yang lama-kelamaan berhenti,sambil menunggu dengan sabar,ia mendengar ketenangan dibalik suara tangisan langit. Tetesan-tetesan bening itu perlahan berhenti,tapi tetap tak tahu kapan pasti. "Aku tak bisa menunggu lebih lama lagi!" Dan dengan cepat Ia langsung melangkah pergi dari gubuk itu,tak dapat menahan langkahnya pergi. Genangan air di jalanan merefleksikan perasaan tak sabarnya. Gadis yang mencintai pelangi dibanding apapun, menganggap keajaiban yang diperlihatkan Yang Maha Kuasa kepadanya sebagai suatu penghargaan. Tujuh cahaya yang dibiaskan diatas lautan biru di angkasa itu menjadi kekasihnya dikala sendiri, mungkin setiap saat. "Ini dia!" Ia bersorak dengan riang gembira,dengan perasaan tak sabar di hatinya,bahkan senyum lebar dan cerah itu tergambar di wajahnya. "Sekali lagi!" Ia berseru dengan ceria, berbeda dari seruannya pada keajaiban pertama. Tak peduli ia akan tergelincir karena licinnya jalanan,ia tetap melangkah maju Ia mulai berjalan naik,perlahan tapi pasti,menaiki anak tangga menuju bukit teratas. Rintikan hujan berhenti seketika ketika ia semakin naik dan semakin dekat dengan apa yang ia tuju. "Ayo kita lihat bersama!" Suara lembut yang keluar dengan hatinya membuat suasana tenang. Kali ini ia melangkah pasti,menuju cahaya putih bias yang menjadi teman hidupnya sejak kecil,dengan hati yang berbeda. "Tunggu aku!"
       Kaki itu lebih dulu sampai diatas bukit. Dengan air hujan yang telah berhenti, ia menatap ketempat yang sama dimana 'keajaiban' itu berada. Pandangan yang menatap lurus kedepan tak berkedip,menantikan harapan munculnya tujuh cahaya itu lagi."dimana? Dimana mereka?!" ia mulai panik,dan mata mulai ingin meneteskan air mata lagi. Apa ia kurang beruntung kali ini? Mungkin,tapi keajaiban tak ada yang bisa menebak. Langit belum tersenyum padanya,langit masih ingin menangis lagi. Emosi meluap di dada, tak dapat di ungkapkan. Bersamaan itu,suara keras menggelegar diudara.Cahaya api emas dengan cepat menyambar dengan kecepatan tertentu,dan suara keras bagai amarah yang keluar.Petir,itu dia.
      Gadis itu menutup telinganya,suara tajam yang ia benci tak ingin didengar."benci...aku benci kilat..." ucapnya merintih ngeri. "apakah setelah langkah ke sepuluh,keajaiban itu kembali lain waktu?" ia mengira-ngira,tapi bersamaan dengan itu,petir kembali menyambar. Dekat,cahaya api itu dekat sekali. Jika ia tak mengelak,mungkin kakinya akan hangus terbakar. Ketika menghindar kilat yang menyambar ke arah dirinya,ia kembali terjatuh. Ditambah anak tangga yang berada dibelakangnya,ia terpeleset dan jatuh. Luka,kaki yang terkena luka bakar dan goresan-goresan kecil yang banyak,serta memar dan darah dimana-mana,itu tak dapat menyakitinya. Kehilangan keseimbangan dan tak dapat berdiri,tangannya bahkan tak dapat membantunya berdiri. "kenapa....ini....begitu sakit?" tangisnya sedih. Suara merdu itu kembali pecah.
      Dengan pandangan yang mulai kabur,dan tatapan yang secara abstrak melihat ke angkasa luas,perlahan memudar,tapi hal terakhir yang ia ingat adalah kilatan api yang menyambar cepat dari udara. "Kebahagiaan.... Akankah sirna?" tanya nya dalam hati,yang perlahan mulai menghilang. Sesuatu terjadi begitu saja,sekejab dan menghilang. Secepat kilat menyambar,dan seindah pelangi bercahaya. Turun dari lautan angkasa. Jagad raya yang luas ini tak akan pernah berhenti membuat kita terpukau. Keindahan yang patut kita syukuri harus kita hargai. Seberapa menakutkannya itu,seberapa indahnya itu,seberapa luar biasanya itu,apapun itu. Gadis itu tak sendirian,sahabat sekaligus kekasih yang selalu menemaninya dikala sepi,seolah mengerti kesendiriannya. Bias cahaya setelah langit menangis,senja keemasan di kala matahari terbenam, Taburan ribuan cahaya harapan ditemani matahari malam yang redup,semua, adalah kebahagiaan baginya.Mungkin bukan berupa makhluk,itu tak apa.
       Seolah hanya mereka yang mengerti perasaannya,seolah hanya mereka yang mengerti pemikirannya,seolah hanya mereka yang mengerti keadaanya. Dan itu mungkin,adalah kehidupan pribadi gadis itu,yang tengah terbaring lemah di atas tanah dengan lumuran darah dimana-mana. Petir pun berhenti menyambar,dan perlahan lenyap. Waktu berganti,tapi kelemahan kekuataannya untuk sadar belum juga memberi tanda apapun padanya. Dan detik terus berputar kearah yang sama,tapi tak mengulang peristiwa yang serupa. Dan tangisan langit mereda,kini cahaya putih keluar. Perlahan ia bangun,dengan mata yang masih sukar terbuka. "apa yang terjadi padaku?" tanya nya lemah dengan suara bergetar. Tubuhnya kaku.
      Satu per satu anggota tubuh ia gerak,mencoba bangkit dari genangan darah ditanah. "aku bisa."ucapnya mencoba menyemangati diri sendiri. Gaun indah dan rambut hitam mengkilap itu kini basah dan kotor,ternodai lumpur,air hujan,dan darahnya sendiri. Ribuan luka fisik dan jiwa ikut membebani,mencoba kembali melemahkannya. Tak seorang pun dapat menolongnya,tak seorang pun yang dapat membantunya. Tak ada siapa-siapa. Ia mengangkat kepalanya keatas,mencari sesuatu yang mungkin dapat menjadi harapan."eh,kemana perginya cahaya itu?" ia melirik sekitar. "Inikah akhir?" kepalanya tertunduk sedih."inikah isi cerita hidupku?" pertanyaan itu terus terlontar lewat bibir merah cherry nya. Tak peduli dengan luka-luka disekujur tubuhnya,ia pun menangis. "kenapa aku harus menjalani ini?" seluruh semangatnya hilang total. "tidak,aku tak ingin itu terjadi!" "sabar,apakah aku harus terus bersabar? Apa aku harus menjalaninya? Apakah aku dapat menemui harapan dan keajaiban itu kembali? Jawab aku!"ia menggelengkan kepalanya,tak menerima semua keadaan yang telah terjadi."tidak mau!" Suara keras berteriak di udara, seolah sampai ke atas langit. Tapi tetap tak ada yang menjawabnya. "kenapa begitu sulit? Begitu sakit."


Story by : MigiRuki / Himawari Fa-Chan

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © 2013 Rainbow Planet - Gumi - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -